Sumba dan Musim Api

September 1, 2020
Api hampir menyambar ban kendaraan bermotor ketika sedang melintas di jalanan Desa Praipaha. Asap menutupi bayangan kendaraan di depan kami. Panas merambat dari udara sekitar kami. Ketika di puncak bukit, titik api mengelilingi bukit kami berdiri. Ya, Sumba sedang panas-panasnya, sedang membara-membaranya.

Musim apa sekarang di Sumba?

Pertanyaan itu kerap kali muncul dari orang-orang di luar Pulau Sumba yang penasaran dengan keadaan terkini di pulau ini. Keadaan yang dimaksud adalah bagaimana tampak fisik kondisi bentang alam Sumba, apakah sedang hijau-hijaunya atau sedang coklat-coklatnya. Bagi sebagian, merasa senang dan sejuk ketika melihat bukit-bukit bak permadani hijau, tidak sedikit yang berandai-andai sedang di Eropa lebih tepatnya di Selandia Baru ketika Sumba sedang musim penghujan dimana rumput tumbuh subur dan berklorofil tinggi.

Bagi penganut eksotisme, tentu mereka akan sangat senang disambut rumput rapuh dan kering yang berwarna coklat nyaris gosong. Barisan rumput coklat tersebut memberikan nuansa liar dan merasa sedang di sabana Afrika katanya. Ya, Indonesia terkenalnya dengan hutan hujan tropis yang lebat di beberapa pulau besarnya, namun fakta bahwa Indonesia memiliki sabana menarik itu sangat jarang orang-orang mengetahuinya.

Namun, kini bukan kedua musim itu yang menjadi pilihan jawaban bagi orang yang sedang ingin mengetahui kondisi bentang alam Sumba. Khususnya Sumba Timur, selama bulan Agustus berlangsung, masyarakat sedang marak-maraknya melakukan pembakaran lahan. Lahan yang dibakar merupakan lahan perbukitan yang hanya ditumbuhi rumput. Menurut warga lokal, kegiatan pembakaran lahan mempermudah mereka untuk membersihkan rumput menjelang persiapan musim tanam, selain itu bukit yang dibakar akan lebih cepat ditumbuhi rumput dan rumput yang tumbuh merupakan rumput yang lebih bagus dari sebelumnya.

Kebiasaan tersebut sudah dilakukan masyarakat lokal dari dulu sekali dan menjadi warisan kebiasaan dari generasi-generasi sebelumnya. Apabila ditilik dari segi konservasi jelas pembakaran merupakan tindakan yang sangat merusak lingkungan dan dapat membunuh rantai ekosistem yang dilewati api, jadi bukan hanya rumput tetapi termasuk didalamnya tumbuhan, jangkrik, cacing di tanah, serangga dan hewan lainnya.

Sebagai pendatang dari luar pulau, saya hanya mampu mengamati dan menikmati. Entah itu sesak dari asap dan panas dari bara. Apa yang terbaik yang mampu dilakukan bersama?

 

Berita Terbaru

Hari Jadi ke-15: Satu Setengah Dekade Aksi dan Penyembuhan
Februari 6, 2024

Hari Jadi ke-15: Satu Setengah Dekade Aksi dan Penyembuhan

Rayakan bersama kami saat kami memperingati 15 tahun komitmen teguh Fair Future Foundation dalam menyediakan layanan kesehatan penting, air bersih,...
read more
Memerangi Kekurangan Obat di Sumba Timur: Hari Harapan
Februari 5, 2024

Memerangi Kekurangan Obat di Sumba Timur: Hari Harapan

Di Sumba Timur, kekurangan obat-obatan sudah mencapai titik kritis dan hampir mendekati krisis. Namun ada harapan dalam bentuk Fair Future...
read more
Kawan Sehat: Transformasi Layanan Kesehatan di Pedesaan Indonesia
Februari 1, 2024

Kawan Sehat: Transformasi Layanan Kesehatan di Pedesaan Indonesia

Petugas kesehatan Kawan Sehat melakukan lebih dari sekedar mentransformasikan layanan kesehatan; mereka menyelamatkan nyawa di daerah paling terpencil di Indonesia....
read more
Lompatan Sumba Timur: Akses Air & Upaya Sanitasi Bersatu
Februari 1, 2024

Lompatan Sumba Timur: Akses Air & Upaya Sanitasi Bersatu

Pertemuan krusial terjadi di Waingapu, di mana sebuah proyek bernama #WaterConnections Laindatang diluncurkan. Proyek ini bertujuan untuk menyediakan air bersih...
read more