Kawan Lawan Malaria – Penelitian Penyebaran Malaria Umalulu
Kawan Lawan Malaria – Penelitian Penyebaran Malaria Umalulu
Proyek Kategori
Kawan Sehat
​
Tahun Proyek
Masalah
Malaria masih menjadi tantangan kesehatan utama di pedesaan Sumba Timur, di mana banyak keluarga hidup dengan akses terbatas terhadap layanan kesehatan, air bersih, dan perlindungan nyamuk. Di Desa Umalulu, malaria terus menyerang kelompok rentan — anak-anak, ibu hamil, dan lansia — sehingga mengganggu mata pencaharian dan membatasi pembangunan masyarakat. Kurangnya pengumpulan data secara berkala juga menyulitkan perancangan intervensi yang efektif.
Solusi
Kawan Baik Indonesia, bekerja sama dengan Fair Future Foundation dan Rotary Australia, memprakarsai Studi Distribusi Malaria di Desa Umalulu untuk memetakan penyebaran malaria dan mengidentifikasi faktor-faktor perilaku, lingkungan, dan kesehatan yang memengaruhi penularannya.
Proyek ini melibatkan 460 responden dan 155 rumah tangga, yang menggabungkan survei dan observasi lapangan. Selain pengumpulan data, 230 kelambu RELIEFNET 0,18 LLIN juga didistribusikan kepada keluarga yang tidak memiliki perlindungan memadai.
Dampak yang Diharapkan
Studi ini menjadi dasar bagi program pencegahan dan edukasi malaria di masa mendatang di Sumba Timur. Dengan memahami perilaku masyarakat, risiko lingkungan, dan tingkat kesadaran, Kawan Baik Indonesia dan mitra dapat merancang strategi pengendalian malaria yang lebih terarah, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat — mendukung tujuan nasional Indonesia Bebas Malaria pada tahun 2030.
Hasil Proyek
Studi ini menemukan bahwa hanya 1,1% rumah tangga yang pernah menerima Penyemprotan Residu Dalam Ruangan (IRS), sementara 68% kelompok tidur terlindungi sepenuhnya oleh kelambu, 27% sebagian, dan 4% tidak sama sekali. Sebagian besar kelambu (lebih dari 92%) telah digunakan selama lebih dari satu tahun, menunjukkan perlunya penggantian dan distribusi yang berkelanjutan.
Meskipun 77% responden mengetahui bahwa malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles, sekitar 20% tidak menyadari atau mendapatkan informasi yang salah, dan 68% tidak dapat mengidentifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk. Aktivitas luar ruangan di malam hari dan kebiasaan rumah tangga, seperti menggantung pakaian di teras, juga meningkatkan risiko paparan.
Yang menggembirakan, 97% responden mencari pengobatan di fasilitas kesehatan setempat, dan tes RDT tersedia secara luas—89,1% melaporkan telah dites, sebagian besar melalui kader kesehatan masyarakat yang melakukan pemeriksaan di rumah. Temuan ini menyoroti keterlibatan masyarakat yang kuat dan kesenjangan yang masih ada dalam pengetahuan pencegahan dan kesadaran lingkungan.
Biaya Proyek
Rp 135.717.860
Lokasi Proyek
Donatur
